Minggu, 20 Agustus 2017

Tradisi mudik warga Gorontalo di Manado

id gorontalo
Tradisi mudik warga Gorontalo di Manado
Pangkalan mobil Manado-Gorontalo. (Foto : Guntur)
"Saya sudah sekitar tiga tahun tidak pernah kembali ke Gorontalo, sehingga sudah kangen dengan lebaran ketupat," kata Nani
Setiap bulan Ramadhan dan menjelang datangnya lebaran Idul Fitri, ratusan warga Gorontalo yang selama ini sudah berdomisili di sejumlah wilayah Provinsi Sulaesi Utara, khususnya Kota Manado, punya tradisi yang sudah turun temurun yakni mudik.

Mudik bagi warga Gorontalo yang tinggal di Manado, Minahasa, Bitung, Sangir Talaud serta Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara, sudah menjadi kewajiban ataupun tradisi yang dilaksanakan sepekan ataupun beberapa menjelang lebaran idul fitri.

Sejumlah warga Gorontalo ketika ditemui mengatakan, tradisi mudik ke kampung halaman di Gorontalo dilakukan sebagai bentuk silaturahmi serta momentum berkumpulnya sanak famili setelah beberapa waktu tidak pernah bertemu.

Saat mudik semua berkumpul untuk merayakan lebaran Idul Fitri, anak bertemu orang tua, sanak saudara bersuka ria, bahkan pada kesempatan tersebut bisa dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan.

Nani salah seorang warga Gorontalo yang sudah sekitar sepuluh tahun tinggal di Manado mengatakan, setiap tahun dirinya bersama keluarga melakukan mudik ke Gorontalo, ingin merayakan lebaran idul fitri.

"Selain itu kami juga melaksanakan ziarah kekuburan orang tua dan sanak famili yang telah wafat," Kata Nani.

Menurut dia, lebaran idul fitri merupakan hari kemenangan serta akan dimanfaatkan untuk berkumpulnya keluarga, sebab ada famili yang sudah sekian tahun tidak pernah bertemu dan nanti saat lebaran bisa saling bersuka ria, tukar menukar cerita maupun pengalaman selama dirantau orang.

"Lebaran kali ini, saya bersama keluarga akan bertemu dengan adik yang sudah sekitar 6 tahun tinggal di Papua," kata Nani.


Lebaran Ketupat

Hari raya sunah ataupun biasanya di sebut dengan lebaran ketupat sudah menjadi tradisi, dirayakan oleh warga Gorontalo sepekan setelah lebaran Idul Fitri.

Lebaran ketupat sama meriahnya dengan pelaksanaan Idul Fitri, sebab ribuan warga baik yang ada di Gorontalo maupun rantau akan berkumpul dan menghadiri acara yang di rayakan secara besar-besaran tersebut.

Tamrin salah seorang warga Gorontalo yang tinggal di Manado mengatakan, bahwa dirinya bersama keluarga mudik ke daerah asal, sebab ingin merayaan lebaran ketupat bersama keluarga besar.

Dia menjelaskan, banyak warga Gorontalo yang pulang dari rantau seperti Manado, Makassar, Palu bahkan Jakarta, akan merayakan lebaran ketupat bersama keluarga sebab acara tersebut sama meriahnya dengan Idul Fitri.

Pada perayaan ketupat tersebut berbagai acara di laksanakan seperti pacuan kuda, karapan sapi, panjat pinang serta momen lainnya, selain ajang untuk kunjungan ke keluarga yang jauh.

Nani salah seorang warga Gorontalo di Manado mengatakan, dirinya bersama puluhan warga Gorontalo lainnya, melaksanakan mudik hanya untuk merayakan acara ketupat bersama keluarga.

"Saya sudah sekitar tiga tahun tidak pernah kembali ke Gorontalo, sehingga sudah kangen dengan lebaran ketupat," kata Nani

Ia menjelaskan, warga Gorontalo yang mudik ke daerah masing-masing tersebut, selain menggunakan armada angkutan umum, juga mobil pribadi serta banyak juga yang menggunakan sepeda motor.

"Banyak yang menggunaan sepeda motor, supaya lebih leluasa bebepergian ke rumah kerabat," Kata Nani.

Ayah dari tiga orang anak tersebut mengungkapkan, bahwa biasanya warga Manado asal Gorontalo tersebut, akan kembali ke Manado, setelah selesai merayakan lebaran ketupat bersama keluarga.



Pedagang Pakaian

Acara mudik juga dimanfaatkan oleh puluhan pedagang Gorontalo yang selama ini mencari nafkah di sejumlah wilayah Sulawesi Utara, untuk menjualan di daerah asalnya.

Atin salah seorang pedagang pakaian mengatakan, puluhan pedagang biasanya akan kembali ke Gorontalo pada pertengahan bulan puasa, sebab sudah menjadi tradisi akan dilaksanakan pasar sengol.

"Kami memanfaatkan pasar senggol untuk berjualan pakaian," kata Atin seraya menambahkan omzet yang di perdagangkan ke Gorontalo mencapai puluhan juta.

Ia menjelaskan biasanya barang dagangan yang dibawa pedagang ke Gorontalo akan habis terjual mendekati lebaran idul fitri, dan itu sudah berlangsung terus menerus selama puluhan tahun.

"Selain melaksanakan silaturahmi dengan sanak family, pada ramadhan juga kami gunakan untuk berjualan pakaian," kata Atin. @antarasulutcom.

Editor: Agus Setiawan

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Baca Juga