Minggu, 20 Agustus 2017

Resensi : pemaknaan dan sisi ringan wartawan berhaji

id wartawan naik haji
Resensi : pemaknaan dan sisi ringan wartawan berhaji
Menteri Agama Surya Dharma Ali terpingkal-pingkal saat membaca buku "Wartawan Naik Haji: Tersungkur di Gua Hira" karya Akhmad Kusaeni (kiri) di ruang kerja menteri, Jumat (20/7) (ANTARA) (1)
Jakarta (Antara Sulut) - Buku tentang perjalanan menunaikan ibadah haji sudah banyak ditulis. Salah satu yang fenomenal adalah yang ditulis oleh Dr Ali Shariati. Banyak artikel dan buku tentang perjalanan ibadah haji yang merujuk kepada buku Haji karangan Dr Ali Shariati ini. Sementara buku perjalanan haji yang ditulis dengan ringan juga banyak bertebaran.

Daya tarik sebuah buku perjalanan ada pada kejujuran dan spontanitas penulis pada kesan yang ditangkapnya selama dalam perjalanan. Salah satu buku perjalanan haji yang berkategori seperti itu adalah "Wartawan Naik Haji. Tersungkur di Gua Hira".

Buku yang diterbitkan Antara Publishing dan ditulis oleh wartawan senior Kantor Berita Antara, Akhmad Kusaeni itu memaparkan perjalanannya berhaji. Buku ditulis penggal perpenggal. Pada setiap bagian ditulis tuntas dan tidak terkait langsung dengan penggalan berikutnya.

Namun secara keseluruhan, isi buku adalah prosesi dan renungan dari makna prosesi itu. Seperti mengapa harus wukuf, mengapa harus melempar jumrah atau mengapa harus berqurban.

Buku yang bertebal 200 halaman dengan cover sang penulis berkafayeh itu berisikan 16 artikel. Artikel kedua, Tersungkur di Gua Hira dijadikan judul buku dan cukup menarik karena disitu digambarkan kebimbangan penulis, apakah mampu mendaki bukit setinggi 270 meter dari permukaan laut dengan anak tangga 600 lebih.

Di sisi lain dia menggambarkan bagaimana peziarah lain yang lebih tua, kakek dan nenek seusia ibunya mendaki dengan semangat. Lebih memalukan lagi, digambarkan bahwa Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, dalam usia 55 tahun setiap hari mengantarkan makanan untuk sang suami.

Sementara penulis yang berusia 47 tahun (2011) tak mampu menapaki anak tangga (hal 42). Dengan memompa semangat dan teringat pada obsesinya saat anak-anak dahulu tentang gua yang banyak diceritakan saat pengajian, maka akhirnya sampai juga penulis di sana. Di gua itu dia tersungkur (bersujud) mengenang perjuangan Rasulullah saat pertama kali menerima wahyu.

Kelebihan dari 16 artikel dalam buku ini adalah gaya penulisannya yang ringan, seperti laporan pandangan mata dan pemaknaan pada prosesi haji. Sudut pemaparan juga beragam, termasuk tentang tentang doa cepat mendapat jodoh (artikel ketiga, hal 47) atau Joki Hajar Aswad (artikel kelima, hal 71).

Sisi ringan lainnya yang enak dibaca adalah Mati Ketawa Ala Jemaah Haji (artikel ke-12, hal 147). Pada artikel ini penulis mengutip joke dan pengalaman mantan Ketua PB NU, KH Hasyim Muzadi yang menceritakan anggota jamaahnya yang tak kunjung mau naik bus umum karena kondektur meneriakkan "Haram! Haram!" sementara yang dimaksud adalah Masjidil Haram. Anggota jamaah mengira dirinya haram sehingga tidak boleh naik bus (hal 151).

Pada bagian lain diceritakan bagaimana KH Muzadi menggali pengakuan anggota jamaah hajinya yang belum biasa menggunakan fasilitas sanitari perkotaan. Disebutkan, muncul keluhan di pemondokan karena wastafel tempat cuci tangan berbau pesing. Saat ditanya, tidak ada yang mengaku kencing di situ.

KH Hasyim putar otak, dia bertanya kepada anggota pemondokan bagaimana fasilitas kamar mandi, apakah sudah memadai? Seorang kakek merespon dengan lugu, "Sebenarnya yang sekarang sudah baik Pak Kyai, cuma terlalu tinggi. Tadi pagi saya kencing susah, karena ketinggian saya bawa kursi ke kamar mandu." (hal 152).

Pada sisi lainnya, penulis menguraikan mana lebih afdhol, tahalul dengan memotong sebagian rambut, minimal tiga helaii, atau gundul. Digambarkan, banyak jamaah enggan mencukur rambut hingga gundul. Biasanya, alasan yang dikemukakan sangat pribadi.

Dalam artikel ke-13 tersebut, penulis menggambarkan proses pilihan mencukur gundul rambut tersebut seakan pilihan pribadi, bahkan menanyakan kepada kepada teman-temannya di "facebook" apakah memotong atau mencukur gundul jadi pilihan terbaik.

Namum, secara halus penulis menggiring pembaca pada aturan yang sebenarnya, mengapa lebih afdhol gundul bagi pria karena Rasulullah mencukur rambutnya hingga gundul ketika berhaji. Pada suatu riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad menghimbau hingga tiga kali agar pria anggota jamaah haji memotong rambutnya hingga gundul, tetapi tidak dituruti.

Istri Nabi lalu memintanya agar mempraktikkan di depan pengikutnya, setelah itu maka semua laki-laki mencukur habis rambutnya mengikuti perbuatan Nabi, tanda sudah bertahalul.

Buku yang diisi dengan kata pengantar Menteri Agama RI Suryadharma Ali itu memuat foto bagus yang terkait dengan ibadah haji. Foto tersebut, sebagaian merupakan koleksi pribadi, sebagian lagi dari fotografer Antara yang pernah meliput disana.

Jika ada hal yang perlu diperhatikan adalah cukup dominannya foto penulis di buku ini. Suryadharma menyinggungnya dalam kata pengantar dan penulis menyadarinya sebagai bagian dari sikap narsisnya (Ucapan Terimakasih, hal 23).

Hal lain yang perlu diperbaiki adalah presisi penunjukan halaman pada daftar isi dengan kenyataan di dalam buku. Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca karena artikelnya penuh warna dan enak dikunyah.

* Wartawan ANTARA yang sekarang liputan haji.

Editor: Agus Setiawan

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Baca Juga