Rabu, 20 September 2017

Pemkot Tingkatkan Kapasitas Personel Tangani Kasus Kebidanan

id pemkot tomohon
Pemkot Tingkatkan Kapasitas Personel Tangani Kasus Kebidanan
Bidan menjadi garda terdepan pengurangan angka kematian ibu dan anak (1)
Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri atau kebidanan pada umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal risiko kehamilan dan keterlambatan rujukan,
Tomohon,  (AntaraSulut) - Pemerintah Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut) meningkatkan kapasitas personel dalam penanganan dan rujukan kasus komplikasi kebidanan, kata Asisten Bidang Administrasi Umum Pemkot Tomohon Novi Politon.

"Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri atau kebidanan pada umumnya disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal risiko kehamilan dan keterlambatan rujukan," kata Novi di Tomohon, Minggu.

Bahkan faktor lainnya yang memantik kegagalan penanganan diakibatkan perawatan ibu hamil dengan risiko tinggi maupun pengetahuan tenaga medis, paramedis dan penderita secara dini yang masih kurang.

Karena itu, kata dia, bidan sebagai tenaga kesehatan diharapkan mampu melakukan penanganan keadaan gawat darurat obstetri neonatal tertentu untuk penyelamatan ibu dan bayi.

Selain itu, melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih berkompeten bila sudah tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas pembantu dan puskesmas.

"Aspek dasar yang paling penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman yakni membuat keputusan klinik, asuhan sayang ibu dan sayang bayi, pencegahan infeksi, serta asuhan persalinan dan rujukan kasus komplikasi kebidanan," katanya menjelaskan.

Kadis Kesehatan Daerah Kota Tomohon dr Deesje Liuw M Biomed mengatakan, peningkatan kapasitas tenaga bidan penting dilakukan untuk mendeteksi secara dini resiko tinggi pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir serta penanganan rujukan.

Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini faktor resiko yang mungkin terjadi pada ibu hamil, nifas dan bayi baru lahir, serta melakukan rujukan pasien berisiko tinggi ke fasilitas pelayanan kesehatan yang berkompeten, katanya.***4***

(T.K011/B/G004/G004) 10-09-2017 17:53:51

Editor: Guido Merung

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga